KEDEWASAAN JIWA

Si Fulan bercerita, tak lama lagi dia berniat mempersunting kekasihnya. Si Gulam, yang notabene sudah menikah, bertanya pada Fulan, apakah dia benar – benar siap menikah ?. Fulan menjawab sudah benar – benar siap lahir bathin, mental dan material.

Lalu Gulam bertanya lagi, apakah jiwanya juga benar – benar siap ?. Fulan agak bingung dengan pertanyaan itu, bukankah ‘jiwa’ sama dengan ‘mental’ ?. Jika mental sudah siap, tentunya jiwa pun sudah siap. Tapi ternyata bukan itu maksud pertanyaan Gulam. Yang dimaksud ‘jiwa yang sudah siap’ ternyata adalah masalah kedewasaan.

Laki – laki yang berniat menikah, bukan hanya umurnya saja yang harus dewasa, jiwanya pun harus matang. Sebab, ketika laki – laki memasuki dunia pernikahan, dia akan menghadapi alam baru, dengan sekelumit permasalahannya, yang menuntut kematangan jiwa dalam menghadapinya. Niscaya segala permasalahan takkan mampu diselesaikan dengan baik, jika laki – laki sebagai kepala rumah tangga tak memiliki kedewasaan jiwa.

Bijaksana dan Bertanggung Jawab
Kedewasaan jiwa ditandai dengan sikap bijaksana. Artinya, dia memandang segala hal menggunakan sudut pandang yang luas, dari segala sisi, berpola pikir out of the box. Dari pola pandang seperti itu, dia akan tahu bagaimana menyikapi sesuatu. Hasil dari sikap bijaksana adalah kemampuan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialami, sabar dan tak mudah terpancing amarah.

“Orang yang bersabar pasti mendapat kemenangan, walaupun tertunda”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Laki – laki yang dewasa jiwanya, juga ditandai adanya inisiatif untuk selalu bertanggung jawab, tidak hanya atas dirinya, tapi juga orang – orang di sekitarnya. Bertanggung jawab terhadap segala tingkah laku dan tutur katanya. Artinya, dia akan memilih melakukan dan mengucapkan hal – hal yang baik saja.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat,
hendaknyalah berucap yang baik, atau diam”
Sabda Rasulullah SAW


Selain itu, laki – laki yang matang jiwanya juga tak memiliki gengsi tinggi, selalu berpikiran positif dan tak suka memperpanjang masalah sepele. Terhadap hal sepele dia lebih baik mengalah demi kepentingan bersama. Jika orang lain bahagia maka dia pun bahagia. Baginya, mengalah bukan berarti kalah, bukan berarti rendah, menyerah atau lemah. Justru sebaliknya, mengalah itu indah, mengalah itu ibadah dan gagah.

Membedakan Baik dan Buruk
Dan yang paling penting, laki – laki yang dewasa jiwanya akan melakukan hal – hal di atas dengan penuh keikhlasan, tidak itung – itungan untung ruginya, dan tak mengharapkan balasan apapun, melainkan ridho Allah semata, Lillahi ta’ala.

“Sesungguhnya yang amat berharga di dunia ini adalah ikhlas.
Berapa kali aku bersungguh – sungguh untuk menghilangkan riya’ dari dalam hatiku, tiba – tiba ia tumbuh dengan corak yang lain”
Yusuf bin Al Husain Ar Razi

Dengan demikian, seseorang yang memiliki kedewasaan jiwa, secara sadar telah mampu membedakan hal – hal yang baik dan buruk. Dan tentunya secara sadar pula dia akan melakukan hal – hal yang baik semata, dan meninggalkan yang buruk. Sebab pada dasarnya, itu merupakan definisi ibadah dengan surga sebagai imbalannya.


“Orang yang sukses hidupnya adalah
orang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak”
Permadi Alibasyah