KEDEWASAAN JIWA

Si Fulan bercerita, tak lama lagi dia berniat mempersunting kekasihnya. Si Gulam, yang notabene sudah menikah, bertanya pada Fulan, apakah dia benar – benar siap menikah ?. Fulan menjawab sudah benar – benar siap lahir bathin, mental dan material.

Lalu Gulam bertanya lagi, apakah jiwanya juga benar – benar siap ?. Fulan agak bingung dengan pertanyaan itu, bukankah ‘jiwa’ sama dengan ‘mental’ ?. Jika mental sudah siap, tentunya jiwa pun sudah siap. Tapi ternyata bukan itu maksud pertanyaan Gulam. Yang dimaksud ‘jiwa yang sudah siap’ ternyata adalah masalah kedewasaan.

Laki – laki yang berniat menikah, bukan hanya umurnya saja yang harus dewasa, jiwanya pun harus matang. Sebab, ketika laki – laki memasuki dunia pernikahan, dia akan menghadapi alam baru, dengan sekelumit permasalahannya, yang menuntut kematangan jiwa dalam menghadapinya. Niscaya segala permasalahan takkan mampu diselesaikan dengan baik, jika laki – laki sebagai kepala rumah tangga tak memiliki kedewasaan jiwa.

Bijaksana dan Bertanggung Jawab
Kedewasaan jiwa ditandai dengan sikap bijaksana. Artinya, dia memandang segala hal menggunakan sudut pandang yang luas, dari segala sisi, berpola pikir out of the box. Dari pola pandang seperti itu, dia akan tahu bagaimana menyikapi sesuatu. Hasil dari sikap bijaksana adalah kemampuan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialami, sabar dan tak mudah terpancing amarah.

“Orang yang bersabar pasti mendapat kemenangan, walaupun tertunda”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Laki – laki yang dewasa jiwanya, juga ditandai adanya inisiatif untuk selalu bertanggung jawab, tidak hanya atas dirinya, tapi juga orang – orang di sekitarnya. Bertanggung jawab terhadap segala tingkah laku dan tutur katanya. Artinya, dia akan memilih melakukan dan mengucapkan hal – hal yang baik saja.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat,
hendaknyalah berucap yang baik, atau diam”
Sabda Rasulullah SAW


Selain itu, laki – laki yang matang jiwanya juga tak memiliki gengsi tinggi, selalu berpikiran positif dan tak suka memperpanjang masalah sepele. Terhadap hal sepele dia lebih baik mengalah demi kepentingan bersama. Jika orang lain bahagia maka dia pun bahagia. Baginya, mengalah bukan berarti kalah, bukan berarti rendah, menyerah atau lemah. Justru sebaliknya, mengalah itu indah, mengalah itu ibadah dan gagah.

Membedakan Baik dan Buruk
Dan yang paling penting, laki – laki yang dewasa jiwanya akan melakukan hal – hal di atas dengan penuh keikhlasan, tidak itung – itungan untung ruginya, dan tak mengharapkan balasan apapun, melainkan ridho Allah semata, Lillahi ta’ala.

“Sesungguhnya yang amat berharga di dunia ini adalah ikhlas.
Berapa kali aku bersungguh – sungguh untuk menghilangkan riya’ dari dalam hatiku, tiba – tiba ia tumbuh dengan corak yang lain”
Yusuf bin Al Husain Ar Razi

Dengan demikian, seseorang yang memiliki kedewasaan jiwa, secara sadar telah mampu membedakan hal – hal yang baik dan buruk. Dan tentunya secara sadar pula dia akan melakukan hal – hal yang baik semata, dan meninggalkan yang buruk. Sebab pada dasarnya, itu merupakan definisi ibadah dengan surga sebagai imbalannya.


“Orang yang sukses hidupnya adalah
orang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak”
Permadi Alibasyah

MEMAKNAI HIDUP

(Dimuat di harian Suara Merdeka, 17 Januari 2009).


Apa tujuan kita hidup ?. Kita hidup untuk apa ?.

Pertanyaan itu menohok tiba – tiba ke dalam jantung saya ketika saya sedang melamun di suatu sore. Saya tidak tahu dari mana datangnya dan bagaimana dia bisa muncul dengan sekonyong – konyongnya.

Berminggu – minggu bahkan sampai berbulan – bulan saya mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang mengagetkan itu. Saya kemudian mencoba mencarinya di dunia maya alias browsing di internet, tapi saya tidak menemukan apa – apa, ya namanya saja ‘dunia maya’, tidak nyata, samar – samar, buram, tidak jelas. Lalu saya mencari – cari di beberapa literatur agama, hasilnya masih sama saja, nihil.

Akhirnya saya mendapat setitik sinar ketika membaca sebuah buku yang ditulis oleh seseorang yang bernama Permadi Alibasyah, yang berjudul Bahan Renungan Kalbu. Dalam buku itu beliau menyebutkan bahwa di dalam kitab suci Al Quran disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai khalifah agar dunia ini menjadi tempat yang lebih baik sebagai tempat tinggal.

“Tugas kekhalifahan yang disandang manusia pada prinsipnya adalah
memelihara dan mengantar semua ciptaan Tuhan menuju tujuan penciptaannya”
Quraish Shihab

Kita tahu pada zaman dahulu kala ketika dunia ini masih berusia muda, hiduplah makhluk – makhluk purbakala, termasuk juga manusia purba dengan segala keterbatasan pola pikir mereka, alias masih jahiliyah. Pada masa itu tentunya tidak banyak hal yang menjadi pemikiran manusia, artinya walaupun mereka memiliki organ otak tapi mereka hanya hidup untuk makan, dan makan untuk hidup, sebuah tujuan hidup yang sangat simpel.

Lalu bagaimana halnya dengan manusia modern seperti kita – kita sekarang ini ?. Apakah tujuan hidup kita juga sesimpel itu ?. Tentu saja tidak, bukan ?. Lalu apa tujuan hidup kita di dunia ?, sebenarnya kita hidup ini untuk apa sih ?.
Manusia yang setiap hari menjalankan rutinitas hidup yang super sibuk mungkin juga akan terhenyak jika secara tiba – tiba disodori pertanyaan seperti itu. Setiap hari selama bertahun – tahun kita melakukan hal yang sama tanpa tahu sama sekali untuk tujuan apa kita melakukannya.

Yang saya maksud adalah bahwa setiap pagi kita bangun tidur, lalu setiap siang beraktivitas, kemudian setiap malam tidur. Setiap hari, selama bertahun – tahun kita selalu melakukan hal itu, dan akan selalu seperti itu sampai manusia mati, tapi kita tidak tahu untuk tujuan apa kita melakukan hal itu. Selama ini kita tidak memiliki waktu luang untuk berkontemplasi dan merenungi hidup yang sedang kita jalani ini. Kita melakukan rutinitas itu layaknya robot, tanpa bisa menghayati makna dari apa yang kita lakukan. Batin kita menjadi hampa sehingga mudah goyah oleh pengaruh – pengaruh yang tidak selalu baik.

Lewat perenungan yang mendalam, jujur dan tulus, pada akhirnya kita akan dapat menemukan sebuah jawaban yang cukup mencengangkan, bahwa sebenarnya tujuan manusia hidup di dunia adalah mencari pahala dari amalan soleh yang kita lakukan, untuk dijadikan bekal menjalani hidup di akhirat nanti dengan cara mengabdi kepada Allah.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan dunia terdiri atas tiga bagian :
sebagian bagi mukminin, sebagian bagi orang munafik, sebagian bagi orang kafir. Maka orang mukmin menyiapkan perbekalan,
orang munafik menjadikannya perhiasan,
dan orang kafir menjadikannya tempat bersenang – senang”.
Abdullah bin Abbas

Jadi maksudnya, bahwa segala kegiatan yang kita lakukan sehari – hari di atas dunia ini - sekecil apapun itu - hendaklah berorientasi tidak hanya duniawi saja tapi juga ukhrowi. Artinya, setiap apapun yang kita lakukan hendaknya mengandung keinginan untuk mendapatkan pahala kebaikan. Misalnya, kita setiap hari sibuk banting tulang mencari harta benda. Jika harta benda yang kita dapatkan itu tidak dilandasi dengan orientasi ukhrowi, maka harta benda itu hanya akan tetap menjadi harta benda semata saja, tidak akan memberikan pahala atau nilai amalan apa – apa untuk kita.

“Seluruh harta yang kita miliki
pada hakikatnya adalah sarana untuk kelancaran bertaqwa”
Ahli Hikmah

Tapi jika setiap harta yang kita miliki itu secara ikhlas selalu kita sisihkan sebagian untuk kaum yang berkekurangan dalam bentuk sedekah, infaq, atau zakat yang besarnya 2.5%, atau 10%, atau 20% (tergantung jenis harta, sesuai dengan yang diajarkan di dalam Al Quran), maka kita akan mendapatkan bukan hanya harta dunia, tapi juga harta akhirat, yaitu pahala yang akan menjadi bekal hidup kita di akhirat yang kekal abadi.


“Wahai Bani Adam, lakukanlah infaq, pasti akan Aku limpahkan kurnia kepadamu. Sesungguhnya Yaminullah (gudang nikmat) sangat penuh berlimpah ruah,
tidak akan susut sedikitpun siang ataupun malan”
Hadits Qudsi


Kehidupan manusia di dunia ini hanya sebentar saja, paling maksimal hanya sampai umur 60 – 70 tahun, sementara 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia (QS As Sajdah (32) : 5). Jika umur kita 70 tahun, maka : (1000 tahun x 365 hari) x 70 tahun = 25550000 tahun. Bayangkan di akhirat nanti kita akan hidup selama kurang lebih 25 juta tahun. Jika selama hidup di dunia kita tidak punya bekal pahala kebaikan apapun, maka selama 25 juta tahun kita akan merasakan tersiksanya hidup di dalam api neraka. Namun jika kita memiliki bekal amalan baik yang banyak, tentunya kita akan menikmati indahnya kehidupan di surga Allah. Bayangkan betapa abadinya.

“Jika engkau beramal untuk dunia maka engkau akan mendapatkan dunia,
tetapi jika engkau beramal untuk akhirat
maka engkau akan mendapatkan dunia dan juga akhirat”
Sabda Rasulullah SAW

Sebenarnya Allah pun telah memberikan bimbingan dan tuntunan agar kita menemukan jawaban atas pertanyaan : ‘Apa tujuan hidup manusia ?’ tersebut, salah satunya adalah lewat perenungan yang dilakukan setelah sholat tahajjud.

“Tebarkan salam, perkuat silaturrahmi, santuni fakir miskin
dan jangan tinggalkan sholat malam”
Pesan Rasulullah SAW

Semakin banyak kita merenung maka semakin banyak pula jawaban yang akan kita dapatkan, dan kita pun akan semakin mantab dengan hakikat hidup kita di dunia. Kita akan semakin menyadari bahwa hidup ini sungguh – sungguh indah, karena Allah menciptakan kehidupan ini pun secara indah. Betapa luar biasanya kekuatan yang dimiliki oleh Allah karena telah mengatur segala sesuatunya tepat pada tempatnya, tepat pada porsinya, tepat pada saatnya, tepat pada peruntukannya, tepat pada sasarannya.

Jika kita telah menemukan apa hakikat manusia hidup di dunia, maka kita akan dapat memaknai hidup ini. Kita akan dapat memahami dan menghayati alasan atau jawaban, bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini pasti memiliki maksud – maksud tertentu. Kita ambil contoh tentang zakat.

Apa tujuan utama Allah mewajibkan manusia untuk berzakat ?. Jawabannya bukanlah semata – mata untuk menyantuni kaum yang berkekurangan, hikmahnya lebih dari itu, yaitu agar di dunia ini tercipta sebuah kehidupan yang indah dan harmonis. Karena dengan zakat tidak akan terjadi ketimpangan yang sangat jauh antara si kaya dan si miskin.

Jika seandainya Allah tidak mewajibkan manusia untuk berzakat maka si kaya akan semakin bertambah kaya, dan si miskin juga akan semakin miskin. Si kaya akan semakin bersikap semena – mena terhadap si miskin, di lain pihak si miskin pun akan semakin sakit hati dan menyimpan dendam kepada si kaya.

Maka tidak akan terjadi kehidupan yang harmonis, akan selalu timbul pertempuran, pertentangan, keributan, peperangan. Hal yang seperti itu tidak akan terjadi seandainya manusia benar – benar sadar akan kewajiban berzakat, terlebih lagi bahwa pahala zakat itu juga untuk kebaikan si pemberi zakat juga, bukan ?.


“Allah SWT mengistimewakan sebagian para hamba-Nya
dengan anugerah kekayaan agar dapat dinikmati juga
oleh – hamba – hamba-Nya yang lain.
Maka Allah pun membiarkan harta itu di tangan mereka (orang – orang kaya) selama mereka mau menggunakannya untuk kepentingan orang banyak.
Tetapi jika mereka hanya menggenggamnya untuk dirinya sendiri, niscaya Allah akan mencabutnya dari mereka dan memindahkannya kepada orang lain”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a


Jika kita sudah berhasil memaknai hidup maka insya Allah kita akan selalu bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian kecil maupun besar yang terjadi pada diri kita dan juga pada seluruh umat manusia di dunia, baik itu kejadian – kejadian yang menyedihkan maupun yang membahagiakan. Kita tidak akan terlalu berlarut – larut dalam kekecewaan dan kesedihan, kita juga tidak akan berlebih – lebihan merayakan kegembiraan.

Kita tidak akan lagi menggebu – gebu mengeruk dan menimbun harta dunia, sikut kanan sikut kiri untuk meraih posisi kehormatan dunia, serta korupsi dan merampok harta yang bukan haknya. Jika seluruh manusia di dunia ini bisa memaknai hidup, maka insya Allah dunia ini akan menjadi sebuah tempat yang indah untuk ditinggali, seperti sejak awal tujuan Allah menciptakan manusia, yaitu sebagai khalifah di dunia.

“Kaum animisme menyembah Allah dengan cara menyembah ciptaan–Nya,
sementara kaum beragama menyembah Allah
namun masih saja merusak ciptann-Nya”
Anand Krisna

DARI TIADA MENJADI TIADA

Pernahkah kita berpikir lebih seksama bahwa hidup manusia di atas dunia ini dibagi menjadi tiga tahapan utama, yaitu lahir, hidup dan mati. Ketika lahir manusia tidak memiliki harta benda apapun. Ketika dan selama hidup manusia memiliki harta benda apapun yang diinginkan. Dan ketika mati manusia kembali tidak memiliki harta benda apapun.

Dari konsep tiga tahapan hidup ini seharusnya manusia bisa mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga. Manusia seharusnya benar – benar menyadari dan menghayati bahwa segala harta benda dan kedudukan sosial serta gengsi dan kebanggaan yang dimilikinya selama hidup di dunia ini sama sekali tidak ada artinya ketika manusia tersebut mati kelak, dan satu – satunya harta yang akan dibawa ke dalam kubur hanyalah amalan ibadahnya selama hidup di dunia.

Artinya bahwa segala harta benda dan kekayaan itu tidak akan dibawa ke dalam kubur ketika dia mati. Dengan pernyataan tersebut, bukankah seolah – olah menjadi terpola di dalam pikiran kita, kalau begitu untuk apa kita sibuk setiap hari banting tulang mencari harta benda dan kekayaan, jika pada akhirnya ketika kita mati kelak semua harta benda itu tidak bisa kita bawa ke dalam kubur, bukan begitu ?.

Namun tentu saja pola pikir yang seperti itu adalah pola pikir yang amat salah. Artinya bahwa harta benda yang dimiliki manusia tetap akan memiliki manfaat yang sangat berarti bagi manusia tersebut hanya selama hidupnya di dunia, jika hidup yang dijalaninya itu hanya berorientasi kepada duniawi semata. Bahwa harta benda dan kekayaan yang dimilikinya itu akan sangat – sangat berguna bagi dirinya jika hidupnya juga berorientasi pada ukhrowi.

Artinya bahwa setiap sen harta bendanya dan setiap cuil kebanggaan harga dirinya akan memberikan sesuatu yang berguna bagi kehidupan akhiratnya kelak, jika dia mampu memberikan makna ukhrowi pada hartanya itu. Maksudnya bahwa jika dia menggunakan kebanggaan akan status sosialnya itu untuk kebaikan dan ibadah, serta menggunakan harta bendanya itu untuk kepentingan kebaikan dan ibadah, maka dia akan mendapatkan bukan hanya harta benda duniawi namun juga harta ukhrowi yang berbentuk pahala. Pahala adalah investasi tabungan masa depan yang hasilnya bisa dinikmati oleh manusia di akhirat ketika kiamat kelak.

Satu hal yang mesti diresapi oleh manusia adalah bahwa masih ada kehidupan setelah kehidupan dunia ini selesai. Kehidupan dunia ini tidak akan selamanya, suatu hari nanti pasti akan terjadi kehancuran dunia oleh kiamat, dan setelah itu akan ada sebuah alam kehidupan baru yang disebut kehidupan akhirat, di mana akhirat ini memiliki dua alam, yaitu surga dan neraka.

Seorang manusia nantinya oleh Allah akan dimasukkan ke dalam surga atau neraka, sangat – sangat bergantung kepada amalan ibadahnya selama hidup di dunia. Harta benda yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia selama hidup di dunia sebenarnya dimaksudkan sebagai sarana untuk mempermudah manusia dalam beribadah kepada Allah. Bukankah akan lebih mudah bagi kita beribadah dalam keadaan perut kenyang, dibanding dalam keadaan lapar ?.

Allah tidak pernah melarang manusia untuk menjadi kaya raya dan banyak harta. Yang Allah inginkan hanyalah agar manusia tidak terlena dan lupa hingga akhirnya terjebak dengan harta bendanya dan kehidupan duniawi yang tidak abadi ini. Dan alat untuk mencegah manusia agar tidak terjebak itu tidak lain adalah ibadah.

Manusia diciptakan dilengkapi dengan akal pikiran dan hati nurani. Dengan akal pikiran dan hati nuraninya itu manusia diharapkan mampu membaca hikmah dari setiap detik kejadian yang terjadi di dunia ini, sehingga manusia mampu memilah mana hal – hal yang baik dan mana hal – hal yang buruk. Namun sayangnya manusia lupa akan hakikat diciptakannya manusia di atas dunia ini.

Manusia terlena dengan kenikmatan dunia dan lupa tugasnya untuk beribadah. Manusia menjadi berteman akrab dengan setan dan membuka hatinya agar setan merasuki dirinya, sehingga akhirnya manusia menjadi beringas dan menghalalkan segala cara dalam mengejar harta dunia.

Jika setiap manusia di seluruh penjuru bumi ini memahami dan menghayati konsep bahwa ketika mati manusia tidak akan membawa satu sen pun harta benda yang dimiliknya, insya Allah di dunia ini tidak akan pernah ada kejahatan. Dunia ini akan menjadi tempat yang tentram, damai, indah, nyaman, rukun satu sama lain. Jika setiap manusia di seluruh dunia ini mau secara sadar dan ikhlas beribadah dengan baik dan benar hanya kepada Allah SWT, insya Allah setan tidak akan bisa mendekati dan menggoda manusia.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah manusia benar – benar percaya bahwa suatu hari nanti pasti akan terjadi kiamat ?. Apakah manusia benar – benar percaya bahwa setelah dunia ini hancur akan diganti dengan kehidupan akhirat ?. Apakah manusia benar – benar percaya bahwa surga dan neraka itu pasti dan benar – benar ada ?.

Apakah manusia ingin masuk surga atau neraka ?. Jika ingin masuk surga maka selama hidup di dunia lakukanlah hal – hal yang diperlukan agar bisa masuk surga. Sebaliknya, jika ingin masuk neraka maka lakukanlah hal – hal yang diperlukan agar masuk neraka. Simple saja, bukan ?.

Namun kebanyakan manusia ingin seenaknya sendiri, ingin masuk surga tapi tidak mau melakukan hal – hal yang diperlukan untuk bisa masuk surga, seharusnya manusia malu kepada Allah yang telah menciptakannya.

“Manusia lahir dalam keadaan sederhana,
manusia mati juga dalam keadaan sederhana.
Maka dari itu, mari kita hidup dengan penuh kesederhanaan”
Anonim

MULUT ADALAH DUNIA, PERUT ADALAH AKHIRAT

Pernahkah terlintas di pikiran kita, aktivitas makan sebagai keseharian manusia, ternyata menyimpan hikmah mendalam. Jika kita termasuk orang – orang yang berpikir, kita akan mengetahui, mulut dan perut merupakan penggambaran dunia dan akhirat.

Bagaimana bisa ?. Ketika makan semangkuk bakso, kita merasakan nikmat di mulut. Tapi, rasa nikmat itu tak berlangsung lama, sebab bakso yang telah dikunyah akan ditelan ke perut. Rasa nikmat itu kini berubah menjadi rasa kenyang.

Mulut menggambarkan dunia, dan perut mengibaratkan akhirat. Seperti halnya rasa nikmat bakso yang hanya bisa dirasakan sebentar saja di mulut, kesenangan dan kenikmatan dunia pun hanya bersifat sementara. Seorang manusia hidup di dunia hanya selama 70 – 80 tahun.

Ketika bakso masuk ke perut, yang kita rasakan adalah kenyang. Rasa kenyang bertahan lebih lama daripada rasa enak di mulut. Ini menunjukkan, kehidupan akhirat jauh lebih abadi, lebih menentukan dibanding duniawi. Surat As Sajdah (32) ayat 5 menyebutkan, 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Jika di dunia kita hidup katakanlah sampai umur 80 tahun, maka di akhirat kita akah hidup selama (1000 tahun x 365 hari) x 80 tahun = 29.200.000 tahun.

Lalu makanan itu dicerna, hasilnya berupa sari – sari makanan yang diedarkan ke seluruh tubuh sebagai energi, dan sisanya dibuang sebagai kotoran. Sadarkah kita, ini sebenarnya penggambaran bahwa akhirat itu dibagi dua alam, yaitu surga dan neraka. Manusia yang banyak amal ibadahnya akan dimasukkan ke surga, dan manusia yang sedikit amal ibadahnya pasti dibuang ke neraka, dan disiksa habis – habisan selama lebih kurang 29 juta tahun.

Jadi, jika ada manusia yang dalam urusan makan lebih mengutamakan rasa enak dibanding rasa kenyang, maka dia termasuk orang yang tak puas dan tamak, akan terus makan walaupun perutnya sudah penuh. Ini gambaran orang yang pola pikirnya masih duniawi.

Namun sebaliknya, jika seseorang lebih mengutamakan rasa kenyang dibanding rasa enak (tanpa menampik keinginan untuk makan enak), sesungguhnya dia termasuk orang yang bersyukur, menerima apa adanya setiap rezeki yang diterima. Orang seperti ini telah menyadari hakikat aktivitas makan yang sesungguhnya, yaitu mendapatkan energi baru untuk berkegiatan sehari – hari, termasuk beribadah demi mendapatkan nikmat akhirat.

Gambaran di atas menjadi jelas, seringkali secara tak sadar kita melakukan hal – hal yang tidak baik. Dan hal – hal yang kita lakukan itu menunjukkan hakikat diri kita di hadapan Allah. Jadi, jika jujur pada diri sendiri, termasuk dalam kelompok manakah kita, yang lebih mengutamakan duniawi atau ukhrowi ?.

“Dunia itu nerakanya orang mukmin dan surganya orang kafir.
Surga itu dikelilingi hal – hal yang tidak disukai,
dan neraka dikelilingi hal – hal yang menyenangkan”
Rasulullah SAW

DO THE RIGHT THINGS AND DO THE THINGS RIGHT

Ada ungkapan bijak berbahasa Inggris yang berbunyi : Do the right things, and do the things right. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira – kira berarti : Kerjakan hal yang baik – baik, dan lakukanlah hal – hal tersebut dengan baik dan benar.

Lalu apa makna yang tersimpan di balik ungkapan tersebut ?. Ini jawabnya, bahwa sebagai umat yang beragama hendaknya manusia dalam menjalankan hidup di atas dunia jangan sampai tergelincir melakukan hal – hal yang dilarang oleh agama.

Do the right things, kerjakan hal - hal yang benar, yang baik – baik. Sudah menjadi sesuatu yang jelas bahwa hal yang baik – baik pasti ada di dalam ajaran agama. Dan jika selama hidup di dunia kita melakukan hal – hal yang baik, sudah barang tentu kita akan selamat tidak hanya di dunia, tapi juga selamat di akhirat, dengan surga sebagai imbalannya.

Do the things right, lakukan hal yang baik – baik tersebut dengan baik dan benar, maksudnya lakukan dengan rasa ikhlas dan penuh kerelaan. Ada sebuah ajaran yang menyatakan bahwa sebuah amalan baik, tidak cukup untuk mendapatkan ridho dari Allah jika amalan itu tidak disertai dengan keikhlasan.

Jadi, maksud dari ungkapan berbahasa Inggris di atas adalah bahwa sebagai manusia kita diwajibkan untuk mengerjakan segala perintah–Nya dan meninggalkan segala larangan–Nya. Kerjakanlah hal tersebut dengan penuh keikhlasan karena kita pasti akan mendapatkan balasan berupa pahala akhirat.

Setiap kali hendak melakukan sesuatu apapun, baik sesuatu yang kecil ataupun besar, biasakanlah untuk selalu berpikir apakah sesuatu yang akan kita lakukan itu akan memberikan pahala kebaikan bagi diri kita atau tidak. Jika tidak, maka tinggalkan, namun jika iya, maka lakukanlah dengan ikhlas. Karena pada dasarnya, melakukan hal – hal yang baik adalah ibadah, maka beribadahlah dengan ikhlas hanya maengharapkan ridho dari Allah semata.

“Sesungguhnya segala amal itu ditinjau dari niatnya,
dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan”
Sabda Rasulullah SAW

IBADAH SEBAGAI SEBUAH KEBUTUHAN

(Dimuat di harian Suara Merdeka, 9 Agustus 2009)


Sebagai umat beragama kita menyadari bahwa beribadah merupakan sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Namun jika dipikir – pikir lebih dalam lagi, ibadah semestinya juga merupakan sebuah kebutuhan bagi umat pemeluk agama. Bagaimana bisa ?.

Jika kita menganggap ibadah hanya sebagai sebuah kewajiban semata, seringkali disertai dengan perasaan terpaksa, malas - malasan, menjadi beban, tidak sukarela dan tidak senang hati dalam melaksanakannya. Seperti hal – hal lain yang sifatnya wajib, misalnya wajib membayar pajak, wajib masuk kantor jam delapan, wajib berangkat tugas luar kota yang lokasinya jauh, serta kewajiban – kewajiban lainnya, ibadah merupakan sesuatu hal yang sifatnya mutlak, mengikat dan ada sanksi hukuman bila tidak melaksanakannya.

Namun jika kita menganggap ibadah juga sebagai sebuah kebutuhan, maka kita akan menjalankannya secara ikhlas, sukarela, senang hati dan tidak terpaksa. Seperti hal – hal lain yang sifatnya sebuah kebutuhan yang harus selalu dipenuhi, misalnya kebutuhan untuk makan, kebutuhan untuk berpakaian, kebutuhan untuk melanjutkan hidup, serta jenis – jenis kebutuhan lainnya, ibadah merupakan sesuatu hal yang tidak bisa lepas dari diri kita sebagai manusia.

Karena pada dasarnya setiap detik dalam hidup manusia selalu dalam keadaan membutuhkan pertolongan dari Allah SWT. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari pertolongan Allah, pertolongan berupa petunjuk kepada jalan yang benar, pertolongan berupa rezeki dan kelancaran dalam mengarungi kehidupan di dunia.

Pertolongan agar selalu dilindungi dari hal – hal yang tidak diinginkan, pertolongan agar selalu mendapatkan anugerah Islam, serta pertolongan – pertolongan lain yang inti dari kesemuanya itu adalah agar manusia selamat dalam perjalanan dan sampai pada tujuan paling akhir yaitu akhirat, dalam hal ini surga.

Itu sebabnya jika kita menjadikan ibadah sebagai sebuah kebutuhan, maka kita akan selalu ingat bahwa ibadah yang kita lakukan secara ikhlas, tanpa beban dan senang hati itu akan berbuah imbalan berupa pahala dari Allah, dan pahala demi pahala yang kita peroleh dan kumpulkan itu akan menjadi bekal dan penyelamat kita ketika sampai pada Yaumul Hisab, dimana pada Hari Perhitungan itu manusia akan ditanya oleh Allah mengenai amalan – amalan ibadah selama hidup di dunia, apakah kita menjalankan ibadah dengan baik atau tidak, khusyuk atau tidak, ikhlas atau tidak.

Jika selama hidup di dunia kita memiliki tabungan pahala yang berlimpah ruah, maka kita boleh merasa tenang karena insya Allah kita akan dikumpulkan bersama orang – orang lain yang berhak menikmati kehidupan di surga. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, tabungan pahala kita hanya sedikit, maka hampir bisa dipastikan bahwa tabungan yang sedikit itu tidak cukup untuk dijadikan bekal menuju surga, bekal itu hanya cukup digunakan sampai di neraka saja.

Maka selamat datang di neraka dengan segala penderitaannya, sebagai akibat ulah manusia sendiri karena tidak beribadah dengan benar selama hidup di dunia, padahal Allah sudah memberikan waktu dan kesempatan yang seluas – luasnya dan selebar – lebarnya. Allah pun selalu membukakan pintu taubatnya bagi manusia, tapi lagi – lagi manusia tidak mau memanfaatkan kesempatan yang baik itu.

Oleh karenanya, agar hal itu tidak terjadi pada diri kita kelak, maka mari kita sama – sama beribadah dengan baik dan benar, dengan senang hati dan ikhlas. Mari kita jadikan ibadah sebagai sebuah kebutuhan dengan selalu mengingat – ingat imbalan besar yang akan kita dapatkan jika kita menjalankannya. Lagipula, Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya.

“Telah Kusediakan balasan untuk hamba-Ku yang saleh
apa – apa yang belum pernah dilihatnya, dan belum pernah didengarnya,
malahan tidak pernah terang – terangan di dalam pikirannya”
Hadits Riwayat Tirmizi

KESABARAN ITU TIADA BATASNYA

Sebagian orang berpendapat bahwa kesabaran itu harus ada batasnya. Bagi orang – orang seperti ini, harus ada saat dimana kesabaran harus dihentikan, kemudian melakukan hal – hal yang sudah menjadi keinginannya untuk dilakukan. Sebagai contoh, seseorang yang sudah terlalu banyak dianiaya oleh orang lain merasa harus menghentikan kesabarannya dan melakukan hal yang ingin dilakukannya, mungkin saja membalas perlakuan orang yang telah menganiayanya itu.

Namun sebagian orang lain berpendapat bahwa kesabaran itu tidak boleh ada batasnya. Kesabaran itu harus selalu ada dan dijaga di dalam hati setiap manusia sampai akhir hayatnya. Karena justru dengan kesabaran itulah nilai diri seorang manusia ditentukan di hadapan Allah SWT. Ada sebuah pertanyaan yang mungkin bisa menjadi ilustrasi tentang hal ini, mana yang ingin dipilih, hidup sengsara di dunia namun mulia di akhirat, atau hidup mulia di dunia namun sengsara di akhirat ?.

Sebagai manusia normal tentunya kita tidak ingin memilih yang manapun dari dua pilihan itu, bukan ?. Tentunya kita berharap bisa hidup mulia di dunia dan juga di akhirat, bukan ?. Namun jika kita benar – benar harus memilih, maka akan lebih baik jika kita memilih hidup sengsara di dunia namun mulia di akhirat.

Mengapa ?. Karena kehidupan akhirat lebih utama daripada kehidupan di dunia. Karena akhirat adalah tujuan paling akhir dari perjalanan panjang kehidupan manusia di dunia ini. Karena kehidupan akhirat itu kekal, abadi, selamanya, sedangkan kehidupan dunia hanyalah sementara, paling – paling hanya sampai usia 70 – 80an tahun.

Seorang manusia yang hidupnya sengsara di dunia, tapi jika dia bersabar dan ikhlas menjalani dan menerima kesengsaraannya itu sampai akhir hayat, karena dia meyakini dengan sungguh – sungguh bahwa kesengsaraan itu adalah ujian dari Allah karena Allah mencintainya, maka di akhirat nanti serta – merta derajatnya pasti akan dinaikkan oleh Allah menjadi derajat mulia, dan insya Allah dia akan menikmati indahnya kehidupan di surga yang abadi, kekal, selama - lamanya.

Pada hakekatnya manusia hidup di dunia ini selalu diuji oleh Allah dengan cobaan – cobaan, baik itu cobaan – cobaan kecil maupun cobaan – cobaan besar. Manusia yang selalu bersabar akan menerima dan menjalani cobaan itu dengan tabah dan selalu memohon kepada Allah agar diberi kekuatan dalam menghadapi cobaan tersebut.

Semakin sering Allah memberikan cobaan kepada dirinya, maka akan semakin sering pula dia berdoa dan memohon kepada Allah, dengan begitu maka secara otomatis dia akan selalu mengingat Allah. Dan Allah sangat mencintai manusia yang selalu ingat akan Dia. Allah sangat senang mendengar manusia yang selalu berdoa dan memohon kepada-Nya.

Bahkan ada sebuah cerita, sebuah dialog antara Allah dengan malaikat. Suatu ketika ada malaikat yang melapor kepada Allah bahwa ada seorang manusia yang selama hidupnya tidak pernah lupa secara ikhlas untuk selalu berdoa dan memohon kepada Allah, tapi mengapa Allah tidak kunjung mengabulkan doa dan permohonannya.

Kemudian Allah menjawab, Aku masih senang mendengarkan doanya yang tulus dan lembut kepada-Ku, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk-Ku mengabulkan doanya. Oleh karena itu, biarkan dia terus berdoa sampai akhir hayatnya, maka dia pasti akan Aku masukkan ke dalam surga-Ku.

“Orang yang selalu sabar pasti akan mendapatkan kemenangan,
walaupun tertunda”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a

DINIKMATI SAJA

Sekilas kata – kata itu tidak memiliki makna berarti bukan ?. Namun jika diresapi dan diucapkan berulang – ulang, khususnya ketika menghadapi situasi menjengkelkan, kata – kata itu bisa menjadi terapi manjur untuk melatih kesabaran. Seorang Romy Rafael sering berkata, jangan pernah sekalipun mengatakan hal negatif pada diri kita, karena secara tidak sadar kita seolah – olah mewujudkan kata – kata itu menjadi kenyataan. Maka, sering – seringlah mengucapkan kata – kata positif, karena hal itu bisa menjadi sugesti kepada alam bawah sadar, untuk tetap bersemangat walau sedang mengalami kesusahan atau kesedihan.

Ketika menghadapi situasi menjengkelkan, apalagi itu perkara sepele, seperti misalnya tiba – tiba mati lampu padahal sedang sibuk di depan komputer, atau jalanan macet padahal sedang terburu – buru. Maka yang harus dilakukan adalah tarik nafas panjang lewat hidung dan hembuskan lewat mulut pelan – pelan. Lakukan beberapa kali. Katakan pada diri sendiri, ‘Sabar…. sabar…., dinikmati saja. Ini perkara sepele, jangan dibuat berat. Berpikir dewasa, coba ambil sisi positifnya’.

Percayalah, jika ini dilakukan berulang – ulang, insya Allah kita telah berhasil meredam hawa setan dalam diri yang membujuk agar marah dan jengkel. Ketika marah, kita berpotensi melakukan hal – hal buruk di luar kesadaran. Dan ketika apa yang kita lakukan itu ternyata merugikan orang lain, maka setan akan bertepuk tangan sambil melarikan diri. Kitalah yang berdosa karena telah menyakiti orang lain. Apalagi, seperti dikatakan Ustadz Danu, kejengkelan dan amarah berpotensi memunculkan penyakit – penyakit pada tubuh, ujung – ujungnya kita yang merugi.

Jadi, nikmati hidup yang memang terkadang menyedihkan, kadang membahagiakan. Seorang Nurtjahyo Adikusumo sering barkata, jangan pernah hilangkan senyuman dari wajah. Karena tersenyum juga merupakan terapi meredam amarah. Amarah hanya membuat kita tidak produktif dan menyisakan penyesalan tak berguna.

“Hikmah bisa diperolah dari siapapun, bahkan dari seorang yang baru dikenal”

BERDOA KETIKA SUKSES DAN GEMBIRA

Seorang Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa manusia berdoa dan memohon kepada Allah ketika sedang susah dan membutuhkan sesuatu, padahal seharusnya manusia berdoa dan memohon justru ketika dalam kesuksesan besar dan kegembiraan.

Kalau dipikir – pikir lebih dalam, ucapan Kahlil Gibran itu ada benarnya juga lho. Lalu apa sebenanrnya maksud dari perkataannya itu ?. Bukankah ketika dalam keadaan sukses dan gembira, akan lebih wajar jika seorang manusia itu bersyukur dan berterima kasih, dibanding berdoa dan memohon ?. Permohonan seperti apa yang kita panjatkan kepada Allah ketika manusia sedang dalam kondisi kegembiraan itu ?.

Kahlil Gibran memang dikenal sebagai sosok yang unik dan memiliki pola pikir yang berbeda dari orang – orang kebanyakan, bahkan seringkali bertentangan dengan norma dan adat kebiasaan yang telah tertanam sangat lama di masyarakat. Jadi, maksud dari perkataan Kahlil Gibran di atas adalah bahwa manusia dianjurkan untuk berdoa kepada Allah ketika sedang dalam keadaan gembira dan sukses besar, yaitu memohon kepada Allah agar manusia tidak lupa bersyukur setiap kali mendapatkan rezeki dari-Nya, agar Allah tidak mengurangi rezeki untuk manusia, dan agar dijauhkan dari sifat takabur, tamak, bakhil dan merayakan kegembiraan yang berlebih – lebihan. Pada kenyataannya manusia memang lupa dan tidak terfikirkan akan hal ini.

Sepertinya terdengar sangat simple bukan maksud dari Kahlilk Gibran itu ?. Yah, memang terdengar sangat simple, namun implementasinya dalam kehidupan sehari – hari sangat – sangat tidak mudah dan penuh rintangan. Namun tentunya bukan berarti sesuatu hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Dibutuhkan niat yang tulus dan kesungguhan hati manusia untuk bisa melakukan hal itu dengan ikhlas dan tidak terpaksa.

“Manusia cenderung tidak berterima kasih ketika apa yang diperolehnya
tidak sebesar apa yang diharapkan. Itulah tanda – tanda manusia tamak”
Jalaluddin Rumi

TERIMA KASIH

(Dimuat di harian Suara Merdeka, 21 Februari 2009).


Seorang uastadz gaul yag kita kenal dengan nama Jeffry Al Buchori dalam sebuah tausyiahnya pernah menerangkan tentang makna lain dari kata majemuk ‘terima kasih’. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ‘terima kasih’ adalah sebuah ungkapan yang lazim diucapkan ketika seorang manusia Indonesia mendapatkan atau menerima sesuatu rezeki Allah, baik itu berupa barang ataupun non barang dari orang lain, sebagai ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas sesuatu yang diterima itu.

Uje, begitu biasanya ustadz ini dipanggil, menjelaskan bahwa ada makna lain dari kata ‘terima kasih’ ini. Menurut saya pribadi, bisa jadi makna inilah yang menjadi filosofi awal terciptanya kata ‘terima kasih’ sebagai sebuah ungkapan dalam bahasa Indonesia. Jadi begini, dalam menjelaskan makna lain dari kata ‘terima kasih’ ini, Uje memisahkan terlebih dulu kata majemuk ini menjadi dua kata yang terpisah dan mandiri.

Yang pertama, kata ‘terima’. Dalam pemahaman kita bersama sebagai orang Indonesia, kata ‘terima’ memiliki arti mendapatkan sesuatu baik itu berupa barang atau non barang dari orang lain. Yang kedua, kata ‘kasih’. Kita juga memahami bahwa kata ‘kasih’ memiliki arti yang berhubungan dengan perasaan cinta, sayang dan kelembutan kepada sebuah objek, baik itu objek bergerak maupun tidak bergerak.

Namun dalam bahasa percakapan dan pergaulan sehari – hari, ‘kasih’ juga memiliki arti lain yaitu : beri, berikan. Sebagai contoh kalimat : Aku dikasih tau Temon di mal sedang ada pameran komputer. Dimana kata ‘kasih’ disitu memiliki arti : diberitahu.

Nah, atas dasar arti kata yang ke dua inilah Uje kemudian menerangkan makna lain kata ‘terima kasih’. Jadi, ‘terima kasih’ artinya menerima dan bersyukur atas sesuatu rezeki Allah yang dikirim melalui seorang manusia, lalu memberikan sebagian dari apa yang diterima itu kepada orang lain yang membutuhkan.

Maksudnya, ketika kita menerima sesuatu barang dari orang lain, misalnya mendapatkan kiriman makanan dari tetangga, maka kita juga harus memiliki keinginan untuk mengirimkan makanan kepada tetangga lain yang sekiranya berkekurangan. Atau misalnya begini, setiap bulan kita mendapatkan gaji dari profesi yang digeluti, maka berikanlah sebagiannya sebagai infaq dan sedekah yang besarnya tidak harus 2.5%, namun menurut keikhlasan masing – masing orang.

Ketika kita mendapatkan sesuatu yang bersifat non barang dari orang lain, seperti misalnya mendapatkan pujian, atau ucapan selamat, atau ketika orang lain mendoakan kebaikan untuk kita, tentunya kita juga mengucapkan ‘terima kasih’, bukan ?. Nah, ketika kita menerima ucapan – ucapan yang baik dari orang lain seperti itu, maka kita juga jangan sungkan – sungkan memberikan ucapan – ucapan dan doa – doa yang baik kepada orang lain yang mungkin sedang dilanda masalah atau kekurangan. Yang paling penting adalah harus benar – benar ikhlas, karena sebesar apapun sebuah amalan ibadah, jika ada setitik saja rasa tidak ikhlas di dalam hati, maka Allah tidak akan meridhoi dan sia – sialah amalan ibadah itu.

Dari situ terlihatlah bahwa kata ‘terima kasih’ ternyata memiliki makna tersembunyi yaitu sedekah. Jika dirunut ke belakang, terlihat pula bahwa sejak zaman dahulu kala ketika kata ‘terima kasih’ ini tercipta di bumi Indonesia, Allah telah memberikan petunjuk kepada para pendahulu bangsa Indonesia untuk bersedekah. Luar biasa, bukan?. Nah sekarang tinggal kita para penerus bangsa, bagaimana mau menyikapi petunjuk yang sudah diberikan Allah ini.

“Sedekah adalah pintu gaib untuk penambahan rezeki”
Ahli Hikmah

INTERNET

Keseharian umat manusia zaman sekarang sudah sangat bergantung pada sebuah benda maya yang bernama internet. Internet sudah menjadi kebutuhan yang paling pokok bagi manusia modern. Bahkan manusia rela meninggalkan aktivitas pokok seperti makan, mandi dan tidur, demi memenuhi kebutuhan berselancar di dunia tak nyata itu. Posisi internet sudah jauh melebihi kebutuhan pokok manusia pada umumnya.

Internet yang merupakan singkatan dari “Interconnected Network” merupakan sarana komunikasi dan informasi internasional yang bisa menghubungkan manusia di seluruh dunia, dan memungkinkan terjadinya pertukaran informasi global tanpa batas (world wide web). Bahkan konon kabarnya internet juga telah mampu menjalin komunikasi antara manusia bumi dengan makhluk di planet – planet lain pada gugusan tata surya.

Dengan internet manusia dijamin tidak akan kesulitan mencari informasi tentang apapun dan di manapun kita berada. Dengan internet manusia juga bebas mengekspresikan rasa dan isi pikirannya, sehingga orang lain pun bisa merasakan manfaat dari sesuatu yang kita ekspresikan itu.

Pihak militer Amerika Serikat mencetuskan ide internet ini untuk pertama kalinya pada tahun 1969, lewat sebuah proyek bernama ARPANET (Advanced Research Projects Agency Network), yang dipimpin oleh Joseph Carl Robnett Licklider, seorang ilmuwan komputer Amerika. ‘Arpanet’ inilah yang menjadi cikal – bakal lahirnya sebutan ‘Internet’ sekarang ini.

Namun pernahkah kita berpikir lebih dalam lagi tentang fenomena internet ini ?. Apakah hal yang mendasari sehingga memungkinkan terciptanya benda internet ini ?. Jawabannya : rasa untuk berbagi. Sekarang mari kita bayangkan bersama, begitu banyak informasi tersedia di dunia maya, milyaran bahkan trilyunan informasi tentang topik apapun ada di internet. Dari manakah asalnya semua informasi itu ?.

Tentunya dari manusia di seluruh dunia ini. Lalu bagaimana selanjutnya sehingga informasi – informasi itu bisa diterima oleh manusia – manusia di belahan dunai yang lain ?. Tentunya dengan cara dibagikan atau diinformasikan lewat media internet ini. Lalu kenapa manusia mau berbagi informasi kepada manusia lain ?.

Jawabannya, karena itu sudah menjadi kodrat dasar manusia. Jadi, di alam bawah sadarnya, dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya ada perasaan ingin selalu berbagi dengan sesama manusia lainnya secara ikhlas, termasuk berbagi informasi lewat media komunikasi. Kemungkinan besar hal dasar yang sangat sederhana ini juga tidak disadari oleh Licklider bersama timnya, ketika pertama kali merancang sistem internet.

Internet membuktikan bahwa pada dasarnya manusia di seluruh dunia diciptakan oleh Allah dengan segala kebaikan, salah satunya adalah rasa selalu ingin berbagi dengan manusia lain. Berbagi kebahagiaan, kesedihan, rezeki, ilmu, doa, nasehat, informasi, berbagi apapun yang bisa membuat orang lain mendapatkan manfaat dari apa yang kita punya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Prita Mulyasari. Dengan mengirimkan pos – el kepada teman – temannya, secara naluri dan alamiah dia ingin berbagi cerita dan keluh kesah tentang apa yang sedang dia rasakan dan alami, sehubungan dengan buruknya kualitas pelayanan Rumah Sakit Omni International. Hikmah di balik pengiriman pos – el itu adalah, agar berhati – hati ketika berobat ke Rumah Sakit tersebut, sehingga kejadian yang menimpa dirinya tidak terulang pada orang lain.

Sungguh menakjubkan, bukan ?. Sebuah fenomena teknologi yang demikan dahsyat dan menjadi kebutuhan paling vital bagi umat manusia saat ini, ternyata berawal dari sebuah rasa qodrati sederhana dan mendasar, yang sudah dibekali oleh Allah di dalam diri setiap manusia semenjak manusia diciptakan. Itu artinya, Allah menginginkan setiap manusia untuk selalu berbagi dengan sesamanya, demi kebahagiaan bersama.

Teknologi internet inipun seharusnya mampu menyadarkan dan membuka mata hati setiap manusia penggunanya, untuk berbagi apapun yang dimiliki kepada orang lain, di dunia nyata. Namun manusia telah terjebak dan hanya bisa terlena oleh kemudahan yang diberikan oleh internet, tanpa menyadari hikmah mulia di balik teknologi internet itu sendiri.

“Berbagi berarti bersedekah. Bersedekah berarti berbuat baik.
Dan setiap perbuatan baik adalah sedekah”
Ahli Hikmah

HIKMAH DI BALIK MISTERI

(Dimuat di Harian Suara Merdeka, 7 Juli 2009).


Apakah anda penggemar sulap ?. Tentunya anda akan sepakat jika dikatakan sulap itu erat hubungannya dengan misteri. Mungkin itu sebabnya mereka yang berkecimpung di dunia ini menamakan diri mereka ‘Pekerja Misteri’. Banyak orang mengatakan sulap itu sebuah seni. Dan hal itu memang benar adanya ketika kita menonton acara ‘The Master’ di RCTI, yang menampilkan pertunjukan – pertunjukan sulap dengan segala misterinya.

Sulap menjadi sebuah seni karena ditunjukkan di atas panggung di depan umum, maka jadilah dia sebuah seni pertunjukan, seperti halnya teater, pembacaan puisi, atau konser musik. Bahkan di dalam pertunjukan sulap pun juga sering menggabungkan teater, pembacaan puisi dan permainan musik.

Lalu, ketika kita menonton acara ‘The Master’, tentunya ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran hidup sehari – hari. Hikmah apakah itu ?. Jika lebih diperhatikan lagi, setiap kali para kontestan, Dedy Corbuzier dan Romy Rafael mempertunjukkan kemampuannya, mereka selalu mengakhirinya dengan pesan - pesan yang bisa diaplikasikan pada diri kita sendiri.

Dan inti dari pesan – pesan itu adalah, bahwa manusia diciptakan Allah dibekali dengan potensi yang luar biasa besarnya untuk menyelesaikan sendiri permasalahan hidup yang dihadapinya, sehingga membuat manusia itu lebih baik lagi kualitas dirinya.

Ketika seorang manusia dilanda sebuah masalah, maka jalan keluar dari masalah itu sebenarnya ada di dalam diri manusia itu sendiri. Manusia hanya perlu lebih peka dan mengasah potensi yang sudah dimilikinya sejak lahir itu. Jadi sebenarnya manusia tidak butuh bantuan paranormal atau dukun untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, atau ingin meningkatkan kualitas diri, atau ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Hanya tinggal melihat ke dalam diri sendiri, mengkoreksi kesalahan diri lalu memperbaiki diri, disertai niat yang tulus.

Kita yakin, permasalahan yang dihadapi seorang manusia adalah hasil dari perilaku manusia itu sendiri. Maka dari itu, penyelesaian masalah itupun ada di dalam diri manusia itu sendiri. Sangat masuk akal, bukan ?. Itu sebabnya manusia diwajibkan selalu berperilaku baik dan positif. Jika ternyata suatu kali khilaf dan terpeleset berbuat buruk, maka cepat – cepatlah bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Untuk bisa memunculkan potensi besar itu tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses yang berulang – ulang dan terus menerus, yang cepat atau lambatnya tergantung niat dan ketulusan masing – masing manusia. Perlu adanya kontemplasi mendalam dan jujur. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri sholat tahajjud, dan ibadah – ibadah sunnah lainnya.

Jika sholat tahajjud dilakukan dengan khusyuk, jujur, ikhlas dan terus - menerus, maka pelan – pelan manusia akan mengenali diri dan potensi yang dimilikinya. Dia akan menemukan untuk apa sebenarnya dia hidup di dunia. Dari sana, dia akan menyadari, segala hidup dan matinya hanyalah untuk Allah.

Artinya, ketika dia mengalami permasalahan apapun dalam hidupnya, dia sangat yakin akan mampu menyelesaikannya dengan potensi yang dimilikinya sendiri, dimana potensi itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah berasal dari Allah. Jadi, ketika kita bicara bahwa manusia memiliki potensi besar dalam dirinya, untuk membuatnya menjadi manusia yang lebih berkualitas, maka sebenarnya kita sedang membicarakan kekuatan Allah.

“Manusia yang selalu berperilaku baik
akan mampu menemukan potensi besar di dalam dirinya,
untuk membuat hidupnya menjadi lebih berkualitas”

DUA TELINGA SATU MULUT

(Dimuat di harian Suara Merdeka, 11 Mei 2009).


Seorang Blaise Pascal pernah mengatakan bahwa entah bagaimana manusia lebih menerima pendapat yang dikemukakan oleh dirinya sendiri, ketimbang pendapat yang diutarakan oleh orang lain. Dengan kata lain, manusia lebih mudah bicara daripada mendengarkan orang lain bicara. Hal itu mungkin ada benarnya juga. Saya ingin menunjukkan sesuatu yang saya alami, yang mungkin bisa menjadi permisalan dari kata – kata Blaise Pascal di atas.

Bagi saya, lebih mudah berbicara atau mengucapkan kata – kata dalam bahasa Inggris daripada mendengarkan orang yang sedang berbicara dalam bahasa Inggris. Ketika mendengarkan orang yang sedang berbicara dalam bahasa Inggris, sepertinya saya mesti bekerja dua kali, yaitu mendengarkan, lalu mencoba memahami apa yang sedang diucapkan.

Pada kenyataannya, ucapan Blaise Pascal tersebut memang terjadi di kehidupan kita sehari – hari, bukan ?. Bagi orang – orang yang dianggap penting, lebih mudah menyampaikan kebijakan daripada mendengarkan jeritan hati rakyat. Bagi orang – orang tertentu, lebih mudah mengkritik dan menyalahkan orang lain daripada mengintrospeksi diri dan mendengarkan kritikan dari orang.

Tahukah teman – teman sekalian, bahwa hal yang seperti itu berkaitan erat dengan alasan penciptaan telinga dan mulut pada tubuh manusia. Mengapa Allah menciptakan telinga berjumlah dua buah (satu pasang) sedangkan mulut hanya satu buah ?. Tentunya Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia – sia, selalu ada maksud dari segala hal yang diciptakan – Nya, hanya manusia saja yang tidak peka dengan maksud – maksud yang tersembunyi itu. Memang dibutuhkan hati nurani yang tajam untuk bisa membaca hikmah di balik ciptaan – ciptaan Allah.

Jika dipikir – pikir lebih dalam lagi, maka jawaban dari pertanyaan itu adalah, karena Allah menginginkan manusia untuk lebih banyak mendengarkan daripada bicara. Dengan banyak mendengar akan ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Dengan banyak mendengar manusia bisa lebih peka terhadap hal – hal yang terjadi di luar dirinya, sehingga tidak menjadi orang yang egois.

Sedangkan sebaliknya, jika manusia banyak bicara, maka telinganya hanya mampu mendengar suara dari mulutnya sendiri, jadi seolah – olah suara – suara mulutnya itu telah menutupi kedua telinganya, sehingga secara tidak sadar ada hal – hal yang keluar dari mulutnya itu yang menyinggung perasaan orang lain. Jadi dia tidak tahu bahwa ucapannya sudah menyinggung perasaan orang lain karena telinganya telah tertutupi oleh suaranya sendiri. Hal itu membuatnya menjadi manusia yang kurang peka terhadap orang lain. Luar biasa bukan ciptaan – ciptaan Allah ?.

“Tafakur itu seperti cermin yang membuat manusia
mampu melihat tanda – tanda kebesaran dan keagungan Allah,
baik yang jelas maupun yang samar,
sehingga akhirnya manusia dapat berlaku lurus di dalam pengabdian kepada – Nya”
Hasan Al Basyri

MENOPAUSE

(Dimuat di harian Suara Merdeka, 21 Maret 2009).


Di dalam ilmu medis kita sering mendengar istilah menopause, yang artinya adalah akhir dari periode menstruasi perempuan yang merupakan proses natural dalam proses penuaan, dan ini terjadi ketika indung telur berhenti memproduksi hormon yang disebut estrogen. Hal ini menyebabkan turunnya kadar estrogen yang kemudian menyebabkan berakhirnya periode menstruasi bulanan.

Biasanya terjadi antara usia 45 – 60 tahun, tetapi hal ini dapat terjadi lebih awal. Intinya, menopause memiliki makna bahwa pada usia – usia tersebut kaum perempuan sudah tidak mengalami menstruasi lagi dan tidak bisa hamil lagi, secara reproduktif sudah tidak produktif lagi.

Sebenarnya mengapa Allah mengkodratkan menopause bagi perempuan ?. Jika mengacu pada hadits di bawah jelaslah terlihat bahwa kebanyakan penghuni neraka kelak adalah kaum perempuan. Jadi jauh – jauh hari sebelum kiamat terjadi Allah telah menunjukkan kepada Nabi Muhammad bahwa kaum perempuan memiliki potensi besar untuk masuk neraka. Hanya Allah sajalah yang tahu mengapa bisa seperti itu.

Jika ditelaah lebih dalam, Allah menciptakan menopause agar di masa tuanya kaum perempuan muslim memiliki kesempatan untuk memperbaiki kualitas ibadahnya, bukan hanya ibadah sholat namun juga ibadah – ibadah lainnya. Masa menopause adalah kesempatan emas bagi kaum muslimah untuk meningkatkan kualitas keimanannya.

Jika dulu di masa produktifnya seorang perempuan muslim mesti absen dari ibadah sholat, puasa dan juga mengaji, maka ketika memasuki masa menopause mereka tidak memiliki alasan lagi untuk meninggalkan ibadah sholat wajib. Bahkan inilah waktunya untuk menambah pahala dengan ibadah sholat – sholat sunnah rawatib muakkad dan ghairu muakkad, serta sholat – sholat sunnah lainnya.

Jika dulu berpuasa hanya saat bulan Ramadhan saja, maka sekarang ini adalah saatnya menambah lagi dengan puasa – puasa sunnah, seperti puasa Senin – Kamis dan puasa – puasa lain yang disunnahkan untuk dikerjakan pada hari – hari besar Islam tertentu. Ini juga menjadi saat yang sangat baik untuk memperdalam ilmu Islam dengan mempelajari serta menghayati makna dari tafsir Al Quran.

Jadi bisa dibilang bahwa masa menopause adalah masa bagi kaum muslimah untuk membayar hutang ibadah yang ditinggalkan sepanjang hidupnya, yang disebabkan karena menstruasi.

Maka jelas terlihat bahwa Allah itu memang luar biasa baiknya dan sangat sayang kepada manusia, terbukti karena Allah selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri dan keimanannya. Allah selalu memberikan petunjuknya bagi manusia yang mau membuka hatinya untuk kebaikan. Menopause merupakan salah satu tanda - tanda kebesaran Allah jika kita termasuk manusia - manusia yang berfikir. Jika sudah demikian, maka nikmat Allah yang mana lagi yang mau kita ingkari ?.

“Aku telah datang ke surga,
maka terlihat olehku kebanyakan mereka adalahpara fakir miskin.
Dan tatkala aku menjenguk ke neraka,
terlihat olehku kebanyakan mereka adalah perempuan”
Hadits Riwayat Imam Bukhari

LATIHAN BAHAGIA

Sesungguhnya, apa yang dicari manusia di dunia ini ?. Harta dan tahtakah ?. Lebih dari itu, setelah mendapatkan harta dan tahta, lalu apa ?. Maka yang kemudian dirasakan adalah rasa bahagia. Jadi, manusia hidup di dunia selalu mengejar kebahagiaan.

Masalahnya, tidak semua orang dikaruniai kekayaan sehingga bisa bahagia. Dan orang yang berlimpah harta juga tidak selalu bahagia. Tapi tiap manusia memiliki hak untuk bahagia. Untuk mendapatkan kebahagiaan itu manusia harus melakukan segala hal yang diperlukan untuk bahagia. Bahkan dalam keadaan sedih dan mengalami kegagalan pun manusia berhak untuk bahagia. Karena bahagia membuat hidup menjadi tenang dan kita tetap dalam pola pikir logis.

Hati yang tenang dan bahagia bisa diraih dengan banyak latihan. Caranya, jangan lupa untuk selalu memasrahkan pada Tuhan segala doa dan usaha yang telah kita lakukan. Berpasrah diri merupakan bentuk pengakuan betapa manusia itu tidak ada apa – apanya di hadapan Tuhan, bahwa Tuhan itu memang benar – benar Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ketika mengalami kegagalan atau sedang dilanda musibah, usahakan untuk selalu bersyukur. Karena itu berarti kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat, meminta ampun atas segala kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan di masa lalu. Ketika mengalami kegagalan, ucapkan “Ya sudahlah”, jangan putus asa dan bangkit kembali, berusaha lagi. Ketika dilanda musibah, ucapkan “Dinikmati saja”, terima penderitaan itu dengan senang hati dan jalani dengan sabar.

Tetap berdoa dan beribadah dengan benar, karena itu adalah inti dari semuanya. Latihan ini akan terasa manfaatnya jika disertai niat dan usaha yang sungguh – sungguh. Mantapkan hati untuk selalu ingin bahagia di setiap kesempatan, maka latihan itu akan terasa ringan dijalani. Katakan pada diri sendiri bahwa saya hidup di dunia untuk mencari kebahagiaan, maka saya tidak ingin bersedih. Saya tidak mau tenggelam dalam penyesalan, penderitaan dan kekecewaan.

SAHABAT TERBAIK

Kita memahami bahwa sahabat adalah seseorang yang menjadi teman terbaik bagi diri kita, seorang teman yang selalu ada setiap kali kita membutuhkan bantuan. Sahabat adalah orang pertama yang akan kita beri kabar, baik itu sebuah kabar bahagia ataupun kabar menyedihkan, seseorang yang tempat kita mencurahkan segala isi hati, teman berdiskusi dan kita harapkan masukan, nasehat bahkan kritikan darinya.

Sahabat adalah seorang teman yang bisa kita ajak tertawa sekaligus menangis bersama – sama, seseorang yang walaupun saling berbeda karakter namun bisa saling memahami dan menerima perbedaan itu. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap seekor kucing, anjing atau ikan peliharaan menjadi sahabat terbaiknya.

Namun pernahkah kita berpikir lebih dalam, bahwa sesungguhnya sahabat terbaik bagi manusia adalah dirinya sendiri, karena di dalam diri seorang manusia selalu ada dua sisi yang saling bertentangan, yaitu sisi baik dan sisi buruk. Selalu ada konflik di dalam diri manusia antara kebaikan dan keburukan. Terlepas apakah kebaikan yang menjadi pemenang atau keburukan yang menjadi pemenang, bila kita mencoba melihat dari sisi yang lain dan membayangkan bahwa kebaikan dan keburukan itu sebagai dua sosok manusia yang berbeda, kita akan melihat bahwa kebaikan dan keburukan itu hidup bersama dalam satu raga dan jiwa.

Di balik konflik yang selalu terjadi, namun mereka tetap saling menghargai dan menerima perbedaan masing – masing karakter. Walaupun terjadi konflik namun masing – masing dari mereka tidak mampu pergi meninggalkan yang lain karena mereka berdua terikat dalam sebuah komitmen persahabatan yang berbentuk raga dan jiwa manusia. Walaupun berbeda namun mereka tetap ingin bersatu dalam satu tubuh yang sama dan tak pernah memiliki keinginan untuk berpisah. Itulah sahabat terbaik yang sesungguhnya bagi manusia.

“Teman terbaik bagi manusia adalah amalan ibadah
yang ada di dalam dirinya sendiri”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, r.a

CHEMISTRY

Saya punya seorang teman yang selalu saya jadikan tempat curhat setiap kali saya punya permasalahan yang menyita diri saya. Sebenarnya bukan hanya saya saja, teman – teman yang lain ternyata juga suka curhat kepada teman saya ini. Entah apa sebabnya sehingga banyak teman yang dengan senang hati dan nyaman bercerita kepadanya mengenai apa saja permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Apapun itu, menurut saya ada sesuatu zat kimia (chemistry) yang tidak kelihatan yang membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan dan mudah didekati. Namun tentunya banyak juga teman – teman lain yang secara chemistry merasa tidak cocok dengan teman saya itu, sehingga merekapun tidak merasa nyaman untuk curhat kepadanya. Dan dia sendiripun tentunya juga memiliki rasa cocok dan tidak cocok dengan orang – orang tertentu.

Yang pasti teman saya ini bukanlah seorang psikiater, dia bukan lulusan psikologi, dan dia tidak pernah belajar atau membaca buku – buku tentang psikologi. Jadi, rupanya teman saya ini hanya bermodalkan hati dan alami saja setiap kali mendengarkan cerita dari teman – teman yang curhat kepadanya. Dia hanya mencoba memposisikan dirinya menjadi diri saya, atau teman – teman yang curhat padanya.

Dengan memposisikan dirinya menjadi diri saya, dia sebenarnya sedang mencoba memahami permasalahan yang sedang saya ceritakana kepadanya, sehingga dia bisa memberikan masukan – masukan atau pandangan – pandangan yang pas yang memang saya butuhkan. Saya merasakan setiap kali saya bercerita kepadanya dia memang menjadi seorang pendengar yang baik.

Di tengah – tengah cerita saya, dia juga memberikan komentar – komentar atau respon – respon yang pas yang membuat saya menjadi semakin asyik bercerita, dan hal itu membuat saya akan selalu mengandalkan dia sebagai tempat curhat setiap kali saya mengalami permalahan - permasalahan lain. Hati kecil saya sebenarnya juga ingin bisa seperti teman saya itu, menjadi tempat curhat bagi teman – teman. Karena di dalam lubuk hati yang paling dalam pada setiap manusia, selalu menginginkan untuk menolong sesama manusia.

“Setiap perbuatan baik adalah sedekah”
Sabda Rasulullah SAW

ONE FOR ALL, NOT ALL FOR ONE

Kita semua menyetujui bahwa manusia diciptakan oleh Allah pada dasarnya saling berbeda. Tidak ada manusia baru yang diciptakan sama dengan manusia sebelumnya. Bahkan sepasang manusia kembar pun pasti memiliki perbedaan. Perbedaan – perbedaan yang sifatnya sangat mendasar itu diantaranya adalah perbedaan karakter, sifat, jiwa, pola pikir dan tingkah laku.

Namun di sisi lain manusia juga ditakdirkan sebagai makhluk sosial, bahwa manusia kodratnya pasti berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia – manusia lain, itulah yang disebut dengan bergaul dan bermasyarakat. Dengan perbedaan – perbedaan yang ada pada diri manusia, manusia tetap dituntut untuk berinteraksi dengan manusia lain.

Sebagai imbas dari perbedaan – perbedaan yang mendasar itu, maka di dalam pergaulan timbul manusia – manusia yang membentuk kelompok – kelompok, yang pada awalnya didasarkan pada kesamaan sifat dan pola pikir. Hal itu kemudian menimbulkan adanya kecocokan dan saling nyambung dalam berkomunikasi. Dari sana kemudian timbul apa yang disebut dengan teman dekat, sahabat, teman kumpul – kumpul, teman satu geng, dan sebutan – sebutan lain yang menyerupainya.

Namun bukan berarti bahwa manusia – manusia yang berbeda sifat dan pola pikir itu tidak bisa saling bergaul. Agar jalannya proses bersosialisasi dan berinteraksi tetap lancar dan tidak timbul perselisihan, maka manusia - manusia dalam suatu kelompok yang memiliki sifat dan pola pikir yang saling berbeda itu harus menerapkan sikap saling memahami, menghargai dan menghormati perbedaan – perbedaan tersebut, selayaknya kodratnya sebagai seorang manusia. Dengan sikap saling menghargai maka akan timbul rasa tentram dan nyaman berada di dalam kelompok itu.

Namun sering terjadi dalam sebuah kelompok pergaulan, ada satu atau dua orang anggota yang aneh, yang secara banyak hal dia berbeda dari mayoritas anggota kelompok yang lain. Macam – macam hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan itu. Selain karena perbedaan sifat dan pola pikir yang memang sudah menjadi kehendak Allah, perbedaan itu bisa terjadi karena perbedaan profesi, perbedaan tingkat ekonomi, perbedaan kebiasaan – kebiasaan, perbedaan cara bergaul, perbedaan cara berkomunikasi, serta perbedaan pada banyak hal lainnya.

Lalu bagaimana ceritanya orang dengan banyak perbedaan seperti itu bisa menjadi bagian dari sebuah kelompok yang secara mayoritas berbeda dengan orang tersebut ?. Penyebabnya bermacam – macam. Mungkin saja orang tersebut memiliki sesuatu yang bisa membuatnya diterima menjadi bagian dari kelompok itu.

Mungkin saja orang tersebut memiliki tingkat ekonomi yang lebih tinggi dari mayoritas anggota kelompok yang lain, maka secara tidak sengaja, secara tidak disadari, secara otomatis, secara tidak direncanakan, secara alami dia seolah – olah menjadi pemimpin di dalam kelompok itu, dan mengendalikan orang – orang yang ada didalam kelompok itu. Suatu hal yang wajar terjadi, bukan ?.

Namun saya pribadi tidak setuju dengan hal seperti itu. Interaksi sosial yang terjadi seperti di atas tidak akan berjalan langgeng, cepat atau lambat orang – orang yang menjadi mayoritas di dalam kelompok itu akan meninggalkan dirinya, karena cepat atau lambat orang itu secara tidak sadar dan tidak sengaja akan berubah dari seolah – olah seorang pemimpin menjadi seolah – olah seorang penguasa. Hal itu membuat anggota - anggota yang lain menjadi tidak nyaman dan sebisa mungkin menghindari dirinya.

Hal itu tidak perlu terjadi seandainya orang itu dengan penuh kerelaan dan kesadaran bersedia dan sudi menyesuaikan diri dengan anggota – anggota yang lain yang nota bene mayoritas. Orang itu seharusnya mau memahami dan memperhatikan bagaimana karakter dari orang – orang yang ada di dalam kelompok itu, lalu menyesuaikan diri dengan mereka, bagaimana caranya agar dia juga bisa cocok dengan mereka.

Jangan menonjolkan ke – aku – an diri, jangan bersikap manipulatif dan semaunya sendiri. Bersikaplah yang luwes dan rendah hati, jangan kaku. Jadi bukan orang lain yang dituntut untuk menghargai dan menyesuaikan diri dengan dirinya, tapi dirinyalah sebagai minoritas yang harus menghargai dan menyesuaikan diri dengan mayoritas, begitulah hukumya pergaulan.

Entah teman – teman percaya atau tidak, pada dasarnya perasaan cocok atau tidak cocok antara seseorang dengan yang lainnya itu didasarkan pada aura atau hawa atau chemistry dari masing – masing diri manusia, yang asalnya dari dalam tubuh dan bisa dirasakan oleh manusia lain. Ada manusia, misal si A, yang secara chemistry merasa cocok dengan seseorang, misal si B, namun orang lain, misal si C, belum tentu juga merasa cocok dengan si B.

Jadi jika si C merasa tidak cocok dengan si B, hal itu sifatnya sangatlah alami, sudah menjadi kehendak Allah menjadi seperti itu, dan tidak bisa dipaksa untuk dirubah agar si C menjadi cocok dengan si B. Yang bisa dilakukah adalah saling menyesuaikan diri dengan cara saling menghargai dan memahami. Namun bila hal itu tetap tidak bisa dilakukan, ya bergaul saja dengan orang lain yang memiliki chemistry yang sama, bukan begitu ?.

“Seseorang akan disukai dan disenangi oleh orang lain,
jika orang lain merasa senang dan nyaman berada di dekat dirinya”
Anonimus

BELAJAR SUKSES DARI KESUKSESAN ORANG – ORANG SUKSES

Pelajaran apakah yang bisa kita ambil dari kesuksesan seorang Ahmad Dhani, Thukul Arwana dan Dian Sastro ?. Ketiga orang di atas telah berhasil menjadi role model bagi orang – orang yang mengagumi apapun yang telah mereka lakukan, serta kekhususan dan kekhasan karakter mereka. Ketiga manusia itu memiliki dedikasi dan totalitas serta focus pada apa yang mereka kerjakan, pada apa yang menjadi jalan hidup mereka, dan pada mimipi – mimpi mereka.

Yang pertama adalah Ahmad Dhani. Dedengkot grup ben Dewa ini adalah contoh manusia yang tidak takut pada manusia yang mencari gara – gara dengannya. Dia adalah simbol umat manusia yang hanya patut takut kepada Allah semata. Gaya bicaranya yang ceplas – ceplos dan terkesan angkuh itu menunjukkan bahwa dia manusia yang sangat percaya diri dan yakin dengan apa yang diyakininya benar. Dhani juga merupakan sosok manusia yang berhati keras dan tegas, terutama jika menyangkut soal agama yang dianutnya, yaitu Islam.

Untuk urusan karir dan jalan hidup, Dhani termasuk manusia yang cerdas. Otaknya selalu berputar mencari jalan untuk kelanggengan karirnya. Grup ben Dewa bisa bertahan hingga sekarang walaupun beberapa kali bongkar pasang personil, itu karena kejeniusan otaknya. Karya – karyanya banyak digemari oleh para Baladewa juga karena kehebatan otaknya.

Banyak penyanyi yang sukses dalam karirnya juga tidak lepas dari campur tangan dia, entah karena diorbitkan olehnya seperti misalnya Mahadewi, atau membawakan lagu - lagu ciptaannya seperti Agnes Monica, Cinta Laura dan Mulan Jameela yang sekarang tergabung dalam Republik Cinta Manajemen Artis bersama – sama dengan Mahadewi, The Rock, Once, Andra and The Backbone dan tentunya Dewa sendiri.

Bisa dilihat bahwa seorang Ahmad Dhani bisa menjadi seperti sekarang ini karena kecerdasan otaknya. Perangainya yang keras dan terkesan sombong adalah hasil pengalaman dan tempaan dalam hidupnya sampai detik ini. Kegemarannya akan hal – hal yang berbau Sufisme menjadi dasar baginya untuk menjalani kehidupan agamanya dan juga karya – karya yang diciptakannya.

“Jenius adalah satu persen inspirasi
dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras”
Thomas Alfa Edison

Manusia yang kedua adalah Thukul Arwana. Sekarang ini siapa sih yang tidak suka dengan Thukul Arwana ?. Kehadirannya tiap Senin sampai Jumat malam bisa membuat orang – orang tertawa di tengah – tengah beratnya persoalan hidup yang sedang dialami, walaupun hanya selama satu setengah jam saja. Paling tidak kita bisa tidur nyenyak setelah nonton acara Bukan Empat Mata yang dibawakannya. Pelajaran hidup yang berharga darinya adalah kesadaran dirinya untuk berhijrah dari manusia yang pesimis menjadi manusia yang optimis.

Seringkali dia mengatakan bahwa dulu dia adalah orang yang selalu berpikiran negatif, selalu curiga dan menyalahkan orang lain, serta berpola pikir sempit. Tapi seiring dengan perjalanan dan perjuangan hidupnya, sekarang dia sadar bahwa selama ini dia salah dan hal itu hanya akan menghalangi dirinya untuk menjadi manusia yang maju. Kesadaran yang datang padanya itu pelan – pelan membuka mata hatinya, dan sekarang dia telah berubah menjadi manusia yang baru, yang selalu ikhlas dan berpikiran positif terhadap segala hal.

“Pikiran yang positif akan menyehatkan sel – sel tubuh,
sebaliknya, pikiran yang negatif akan merusak sel – sel tubuh”
F. Bailes

Ketika acara Empat Mata yang dibawakannya sempat dibredel oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dia kemudian mesti berjualan singkong di depan rumahnya selama hampir satu bulan, hingga akhirnya dia kembali dipercaya oleh Trans 7 untuk membawakan acara yang bertema sama, Bukan Empat Mata. Dalam menghadapi peristiwa yang dialaminya itu dia mengatakan bahwa dia hanya pasrah dan menggunakan Ilmu Siap, yaitu siap untuk jatuh dan siap untuk bangkit lagi.

Ketahuilah bahwa sangatlah sulit untuk selalu berpikiran positif di setiap keadaan. Manusia hidup di dunia ini dibekali dengan naluri untuk mempertahankan dan menjaga dirinya dan apa yang menjadi miliknya. Jadi, setiap ancaman dan gangguan yang datang pada dirinya, walau sekecil apapun itu, secara naluriah manusia akan mengaktifkan insting bertahan. Bersikap waspada memang harus, tapi kewaspadaan yang berlebihan sebenarnya sudah menunjukkan gejala – gejala sifat berpikiran negatif. Pada awalnya hanya berwaspada, kemudian naik menjadi waspada yang berlebihan. Hal itu membuat manusia kemudian menjadi curiga, yang ujung akhirnya adalah berpikiran negatif.

Yang lebih sulit lagi adalah ketika dari dalam hati kita memiliki suatu itikad baik, atau sikap positif, atau tidak ada maksud buruk kepada orang lain, tapi kemudian orang lain tersebut terlebih dahulu bersikap buruk kepada kita, hal itu adalah hal yang sangat mengecewakan. Mengapa ada orang (misal si A) yang dengan sengaja bersikap buruk kepada orang lain (misal si B), padahal si B tidak pernah berbuat salah apapun terlebih dahulu pada si A ?.

“Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk padamu.
Tanamlah perbuatan yang baik, niscaya engkau akan menikmati hasilnya”
Lukman Al Hakim

Yang berikutnya adalah Diandra Paramitha Sastrowardoyo, atau singkatnya Dian Sastro. Gadis cantik kelahiran 16 Maret 1982 ini adalah tipe manusia yang selalu ingin terlihat ceria dan bahagia oleh orang lain, kalau bahasa Thukul Arwana-nya adalah smiling to be my good. Secara dia seorang pablik figur maka dia ingin orang selalu senang melihat dirinya dan kehadirannya. Walalupun sedang sedih tapi dia tidak ingin menunjukkannya, dia tetap tersenyum, tertawa dan bahagia. Karena selain senyum adalah jenis sedekah yang paling sederhana, dia sadar bahwa senyum yang dia berikan itu akan mengirimkan aura positif bagi orang yang melihatnya, dan juga orang - orang yang ada di sekitarnya. Tentunya kita senang melihat orang lain senang, bukan ?.

“Menjumpai seseorang dengan wajah berseri adalah sedekah”
Sabda Rasulullah

Dian Sastro adalah tipe orang yang focus dalam melakukan sesuatu hal. Kita tahu selama ini dia berakting hanya di film layar lebar saja, dia tidak pernah mau bermain sinetron, kalaupun iya, dia hanya pernah bermain satu mini seri, yaitu Dunia tanpa Koma. Alasan dia tidak mau bermain sinetron karena sinetron menggunakan sistem kejar tayang yang selalu terburu - buru, sehingga akting yang dilakukan hanyalah alakadarnya dan tidak total karena dikejar tenggat waktu. Dian tidak mau yang seperti itu, dia ingin berakting secara total sesuai tuntutan peran yang ada, dan untuk bisa berakting total butuh observasi dan pendalaman karakter, dimana semua itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Dia sadar bahwa akting adalah hidup yang dia pilih, oleh karena itu dia harus melakukannya secara sungguh – sungguh dan total. Itulah tanda seorang aktris sejati. Yang dia utamakan adalah kepuasan batin, bukan kepuasan materi. Kalau dia mencari kepuasan materi, tentunya sudah dari dulu dia bermain sinetron. Dian juga sadar bahwa bermain di film lebih eksklusif dan bergengsi daripada bermain sinetron, buktinya banyak pemain sinetron yang sekarang berlomba – lomba bermain film hanya demi mengejar predikat eksklusif dan bergengsi itu.

Tapi tetap saja, yang lebih layak dan berhak mendapatkan predikat itu hanyalah para aktor dan aktris yang hanya berakting di film saja dan tidak pernah berakting di sinetron atau produk TV lainnya. Sebut saja nama Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti untuk menemani Dian mendapatkan predikat itu. Hal lain yang menunjukkan bahwa Dian adalah orang yang fokus adalah ketika dia harus menyelesaikan skripsinya dia tidak menerima tawaran bermain film sama sekali.

“Siapa diri kita adalah apa yang kita lakukan berulang – ulang.
Keunggulan bukan karena kemampuan, tapi karena kebiasaan”
Aristoteles

MIMPI DAN IMAJINASI

Percayalah bahwa Allah itu sangat mengasihi hambanya. Allah mengasihi hambanya lewat sebuah anugerah. Dan anugerah yang Dia berikan kepada manusia adalah berupa imajinasi. Oleh karenanya manusia mesti banyak – banyak berterima kasih kepada-Nya, karena dengan berimajinasi manusia bisa menjelmakan mimpinya menjadi sebuah karya. Sebuah karya lahir dari janin inspirasi, dan segala karya Allah adalah inspirasi bagi manusia.

Tidak ada salahnya manusia terus bermimpi dan berimajinasi. Mimpi dan imajinasi adalah mesin pembakar semangat hidup manusia dalam meraih cita – citanya. Mimpi bukanlah sekedar pepesan kosong ataupun tong kosong yang berbunyi klonthang.

Hidup adalah sebuah proses, dan mimpi adalah sebuah tujuan. Manusia hidup berarti dia sedang berproses untuk mencapai tujuan mewujudkan mimpinya. Mimpi adalah sesuatu yang musti dikejar dan diperjuangkan.

“Jika manusia tidak lagi bisa bermimpi, maka lebih baik dia mati saja”
Emma Goldman

HATI – HATI DENGAN KATA HATI

(Dimuat di Harian Semarang, 25 Januari 2010)


Seorang teman pernah meminta pendapat saya, mana yang lebih utama, akal sehat atau kata hati ?. Saya berpendapat bahwa hal itu sifatnya relatif, artinya tidak ada jawaban yang pasti, sangat bergantung pada masing – masing orang. Namun konon katanya, laki – laki pada umumnya lebih mengutamakan akal sehat, sedangkan perempuan lebih mengutamakan kata hati. Katanya, hal itu sudah menjadi sifat alami manusia, yang membedakan laki – laki dan perempuan.

Namun menurut saya pribadi, hal itu bukanlah harga mati, artinya ada juga laki – laki yang lebih mengedepankan kata hati daripada akal sehat, tapi mungkin jumlahnya tidak sebanyak jumlah laki – laki yang lebih merngutamakan akal sehat ketimbang kata hati. Begitupun halnya dengan perempuan.

Artinya apa ?. Ketika seseorang menghadapi suatu permasalahan dalam hidupnya, jika dia menggunakan akal sehatnya untuk menyelesaikan permasalahan itu, padahal tanpa disadari dan dipungkiri, disaat yang bersamaan sebenarnya dia juga mendengarkan kata hatinya. Walaupun porsinya kecil, namun kata hati juga ikut memberikan kontribusi ketika seseorang mengambil sebuah keputusan. Contohnya, akal sehat seorang pencuri mengatakan bahwa dia butuh makan, dia harus melanjutkan hidupnya.

Dan untuk memenuhi kebutuhan itu, yang terpikirkan olehnya adalah mencuri. Disaat yang bersamaan pula kata hatinya memberikan kontribusi suara yang menyebabkan dia memutuskan untuk mencuri, bahwa dia mencuri karena didorong oleh rasa lapar. Bukankah ‘perasaan’ (dalam hal ini rasa lapar) itu erat kaitannya dengan hati ?.

Sedangkan sebaliknya, jika seseorang lebih mendengarkan kata hatinya untuk menyelesaikan permasalahannya, lagi – lagi tanpa disadari dan dipungkiri, disaat yang bersamaan sebenarnya dia juga menggunakan akal sehatnya. Dan justru akal sehatnya itulah yang membantu dia dalam mengambil sebuah keputusan. Contohnya, ketika seorang mantan pengikut aliran sesat Kerajaan tuhan (Kingdom of God) bercerita bahwa awal mula dia menjadi pengikut aliran itu karena merasakan adanya kedamaian ketika mendengarkan pemimpin mereka Lia Aminudin alias Lia Eden, berbicara.

Namun disaat yang bersamaan sebenarnya akal sehatnya tidak setuju, secara logika dia tidak bisa menerima ajaran – ajaran aliran itu. Pada saat itu dia memang membunuh apa yang dikatakan oleh akal sehatnya itu, namun setelah beberapa lama akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan aliran itu, karena akal sehatnya terus – menerus berontak, bahwa secara logika ajaran itu sangat – sangat sesat dan tidak benar.

Memang tidak selamanya kata hati itu benar, karena kata hati bisa jadi adalah bisikan malaikat (lammah malakiyah) atau bisa jadi bisikan setan (lammah syaithaniyah). Agar bisa membedakan keduanya dibutuhkan akal sehat, bahwa bisikan yang baik pasti datangnya dari Allah melalui malaikat, sedangkan bisikan jelek pasti adalah bisikan setan. Logikanya adalah tidak mungkin Allah membisikkan sesuatu hal yang buruk kepada manusia.

Banyaknya aliran sesat yang muncul adalah akibat dari lemahnya fondasi keimanan mereka. Seorang Permadi Alibasyah mengatakan bahwa yang terpenting sebelum menjalankan ibadah agama Islam adalah terlebih dahulu membangun fondasi pemahaman yang kokoh tentang Islam yang benar, yaitu ilmu Tauhid yang menerangkan apa dan bagaimana Allah, yang membedakan Allah dengan malaikat, iblis dan manusia.

Mereka – mereka yang menjadi pemimpin aliran – aliran sesat itu penyebabnya adalah lemahnya fondasi keimanan dan kurangnya pengetahuan mengenai Islam yang benar. Mereka memahami Islam secara sepotong – sepotong, mereka juga menafsirkan ayat – ayat Al Quran secara sepotong – sepotong. Pemahaman yang sepotong – sepotong ditambah dengan bisikan - bisikan setan, maka sempurnalah kesesatan itu.

Dan mereka yang menjadi pengikut aliran – aliran itu penyebabnya juga fondasi keimanan yang lemah dan pemahaman Islam yang sangat kurang, sehingga sangat mudah terdoktrin oleh perkataan – perkataan para pemimpin mereka, ditambah pula adanya bisikan – bisikan setan yang membujuk mereka untuk mengikuti aliran – aliran sesat itu.

“Dan sebaik – baiknya orang – orang salah adalah yang cepat bertaubat”
Rasulullah SAW

HIDUP ADALAH PERJUANGAN

Jika seseorang hanya berpola pikir duniawi semata, maka dia akan mengatakan, hidup adalah perjuangan keras mencapai cita – cita kebahagiaan, kesuksesan, ketentraman, kekayaan, dan cita – cita lainnya yang sifatnya duniawi semata.

Sedangkan bila seseorang berpola pikir ukhrowi, maka dia akan mengatakan, hidup adalah perjuangan keras meraih ridho Allah SWT. Perjuangan yang diejawantahkan dalam bentuk mentaati semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangn-Nya. Bila usaha keras itu dilakukan atas dasar ikhlas Lillahi taala, maka ganjarannya adalah ridho Allah berupa pahala akhirat.

Hidup ini bukanlah semata – mata urusan duniawi saja. Hidup juga mutlak diimbangi dengan urusan ukhrowi, sehingga manusia tak hanya mendapatkan nikmat dunia, tapi juga nikmat akhirat yang berbentuk pahala.

“Pejuang adalah orang yang selalu menundukkan nafsunya untuk mentaati Allah SWT”
Sabda Rasulullah SAW