LEBIH HEMAT DENGAN PRINTING ON DEMAND



Dimuat di Harian Suara Merdeka, 8 Februari 2010

Teknologi baru di bidang percetakan kini telah hadir. Teknologi itu bernama Printing on Demand (POD), yang memungkinkan mencetak buku dengan jumlah eksemplar sesuai kebutuhan. Sebenarnya, teknologi ini sudah didemonstrasikan pertama kali oleh perusahaan Ingram/Lighting Print Inc, pada pameran buku di Amerika sekitar Juni 1998, namun gaungnya baru terdengar di Indonesia beberapa tahun terakhir.

Berbeda dengan mesin offset yang mencetak 3000 eksemplar sekali cetak guna mendapatkan nilai ekonomis, POD memungkinkan mencetak bahkan hanya 1 eksemplar. Karena POD menggunakan sistem digital printing yang tidak memerlukan film dan pelat cetakan, seperti halnya offset.

Dengan mesin offset, proses mencetak buku membutuhkan waktu berhari - hari, mulai pembuatan film, pelat cetakan, memilah hasil cetakan, merapikan halaman, melipat, menjilid, dan kontrol akhir. Sebaliknya, dengan POD, file di komputer bisa langsung dicetak, dengan halaman yang sudah urut, berikut sampul bukunya. Cukup siapkan naskah yang sudah tertata halaman dan ukuran kertasnya, simpan dalam format PDF, lalu dicetak. Bisa ditunggu, hanya butuh beberapa jam hingga maksimal 1 hari, tergantung banyak eksemplar yang dicetak. Jika terdapat kesalahan redaksional pada detik – detik terakhir, tinggal diedit saja lalu dicetak, seperti mencetak dengan printer biasa. Sementara dengan mesin offset, kesalahan redaksional berarti harus mengganti film dan pelat baru.

Teknologi POD merupakan angin segar bagi penulis yang naskahnya berkali – kali ditolak penerbit besar. Mereka bisa mencetak buku dengan jumlah eksemplar sesuai kemampuan kantung, lalu coba dititipkan ke toko buku, atau dijual sendiri lewat jaringan online maupun offline. Tinggal ketik rapi, beri ilustrasi sampul, simpan dalam format PDF, kirim atau bawa ke penerbit yang telah memiliki mesin POD, dan jadilah buku. Bagi penerbit besar, teknologi ini bisa membantu mencetak ulang buku yang lambat oplahnya namun masih banyak dicari. Selain itu, juga digunakan untuk mempromosikan buku baru. Mencetak awal dalam jumlah sedikit, melihat reaksi pasar, baru dicetak dalam jumlah besar. Penerbit kecil yang tidak mampu menerbitkan dalam jumlah besar juga telah banyak memanfaatkan POD, karena selain besarnya biaya, mereka juga mempertimbangkan penyerapan pasar.

Mencetak dengan POD mengurangi resiko kerugian hasil cetakan yang kurang bagus, karena dengan offset selalu ada tinta yang kurang sempurna. Dengan POD, tidak ada buku atau kertas terbuang, sangat efisien dan menguntungkan karena tidak perlu pusing dengan biaya penyimpanan dan stok menumpuk di gudang, akibat ‘kutukan 3000 eksemplar’. Tenaga kerja yang dibutuhkan pun jauh lebih sedikit dibanding offset. POD memang terasa manfaatnya untuk tiras kecil, untuk tiras besar, sistem offset masih lebih ekonomis.

Bagi penulis, sistem kerjasama dengan penerbit bermesin POD lebih praktis dibanding penerbit offset. Yang menjadi poin kesepakatan adalah ukuran buku, jenis kertas, desain sampul dan tata letak. Biaya desain sampul dan tata letak dibayar setelah kontrak ditandatangani. Persetujuan kerja sama dapat dilakukan via pos - el. Pembayaran sudah termasuk dummy (proofread) dan ongkos kirim. Setelah itu, penulis hanya mengeluarkan biaya produksi sesuai jumlah yang diinginkan, ditambah ongkos kirim. Pengerjaan buku dimulai setelah pembayaran uang muka.

Berikut secara umum prosedur menerbitkan buku dengan POD :
1. Penulis mengirim atau membawa naskah dalam format PDF ke penerbit
2. Penerbit mengirimkan Surat Perjanjian Kerjasama ke penulis
3. Setelah surat disetujui kedua pihak, penulis membayar biaya desain dan tata letak
4. Lakukan diskusi online atau offline dengan desainer tentang desain dan tata letak
5. Setelah dicapai kesepakatan, penerbit mengirimkan dummy (proof read) untuk diperiksa penulis. Biasanya penulis mempunyai jatah 2 – 3 dummy. Dari situ sudah bisa diketahui harga produksi per buku
6. Penulis mengirimkan surat permohonan cetak buku serta jumlah eksemplar yang diinginkan
7. Penulis mengirimkan biaya produksi + royalti penerbit + ongkos kirim
8. Penerbit mengirimkan buku ke penulis.

1 komentar: