PERANTI LUNAK PENDETEKSI DIABETES


Dimuat di harian Suara Merdeka, 22 November 2010

SEJAK tahun 2007, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan 14 November sebagai Hari Diabetes Sedunia. Itu menandakan, penyakit tersebut telah menjadi isu global dan makin mengkhawatirkan. Sebab, makin hari penderitanya kian tambah. Diabetes kini tak hanya menyerang usia lanjut, tetapi juga usia muda, akibat pola makan dan gaya hidup tak sehat. Bahkan anak-anak pun bisa mengidap diabetes karena faktor keturunan. Berbagai kampanye, penyuluhan, dan pencegahan dilakukan untuk memberikan kesadaran pada masyarakat tentang bahaya penyakit itu.

Jumlah penderita diabetes Indonesia terbanyak keempat di dunia, setelah AS, India, dan China. Penyakit itu merupakan penyebab kematian nomor tujuh terbesar di dunia. Diabetes berdampak terhadap komplikasi penyakit dalam, seperti kebutaan, impotensi, depresi, kerusakan ginjal, kerusakan saraf, pembusukan bagian tubuh yang berujung amputasi, pengerasan dan penyempitan pembuluh darah (aterosa klerosis) yang menyebabkan stroke dan jantung, sehingga berakibat kematian.

Para ahli menyatakan diabetes dapat diminimalkan dengan menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat. Telah banyak informasi tentang konsumsi makanan dan minuman sehat yang dapat mengurangi risiko penyakit itu. Mulai dari susu, kopi, teh, bayam, brokoli, anggur, kacang, hingga beras pecah kulit.

Healthy Solution Center

Perkembangan teknologi informasi juga berpengaruh positif terhadap dunia kesehatan, termasuk diabetes. Penyebaran informasi kesehatan lewat internet bermanfaat besar bagi masyarakat. Khusus diabetes, internet bisa dimanfaatkan sebagai sarana pendeteksi gejala dan panduan pengobatan bagi penderita sehingga bisa diambil langkah yang diperlukan.

Tiga mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), misalnya, berhasil merancang perangkat lunak pendeteksi diabetes yang diberi nama Healthy Solution Center (HSC). Selain mendeteksi, peranti lunak itu dapat merancang menu sekaligus melayani pemesanan makanan sehat untuk mencegah dan mengobati penyakit kencing manis.

Ketua tim Novira Putri mengemukakan perancangan HSC tak memakan waktu lama, hanya sekitar seminggu. Namun penyusunan database membutuhkan waktu lama karena mereka lakukan sangat serius. Agar sesuai dengan Sistem Pakar Gizi, Novira dan kawan-kawan dibimbing Rosi Darmawati SKM, ahli gizi RS Adi Husada, Undaan, Surabaya. Ditambah buku referensi, mereka menyusun rancangan menu makanan berat dan ringan. Mereka juga survei ke beberapa rumah sakit di Surabaya, seperti RS Adi Husada dan Dr Soetomo. Dari survei itu mereka mendapatkan data pendukung untuk keakuratan analisis.

Dalam pemasaran, kelak, HSC dapat diakses melalui website. Pengguna bisa memilih menjadi anggota tetap atau hanya pengunjung. Salah satu anggota tim HSC, Muhammad Ferbrian Ardiansyah, menuturkan dalam program HSC, pengunjung diberi perintah memasukkan beberapa data yang menjadi kriteria penilaian, seperti berat dan tinggi badan serta kadar gula. Setelah itu program akan mendeteksi tipe diabetes apa yang diperkirakan diderita. Lalu, pengunjung diberi pilihan berupa menu makanan dan minuman sehat atau cemilan yang disarankan. Program juga akan menawarkan paket pemesanan makanan dengan pilihan harga yang ditentukan pasien.

Selain melalui website, kelak HSC juga dipasarkan melalui rumah sakit, apotek, dan toko. Dan, informasi mengenai program itu akan disebar melalui brosur.

Deteksi Dini

Sementara itu, Program Pascasarjana Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta juga merancang perangkat lunak berbasis web yang dapat mendeteksi penyakit diabetes secara dini. Dr Sri Kusumadewi sebagai pengelola mengatakan, program itu melibatkan 50 pasien pengidap diabetes dan lima dokter dari berbagai kota, seperti Solo dan Yogyakarta.

Perangkat lunak itu terdiri atas lima modul yang kelak bisa diakses lewat website. Modul pertama adalah deteksi dini risiko diabetes. Modul kedua terapi yang memanfaatkan telemedicine, termasuk teknologi SMS, misalnya berisi pesan pengingat untuk suntik insulin. Modul ketiga rekomendasi menu harian. Itu berbeda dari buku diet diabetisi karena lebih personal, sesuai dengan kondisi penderita, dan variatif. Modul keempat rekomendasi latihan jasmani. Kelima mengenai deteksi kemungkinan komplikasi.

Sri Kusumadewi menyatakan implementasi perangkat lunak itu baru pada tahap uji coba. Dia akan terus melakukan langkah terintegrasi untuk mengembangkan program itu. Dia berharap kelak ada respons positif dari kalangan medis dan masyarakat luas, sehingga angka pertumbuhan penderita diabetes, khususnya di Indonesia, bisa ditekan sekecil mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar